8 Cara Bedain Mall Kelas Atas & Bawah

2:06:00 AM

Mungkin kamu suka ngerasa ya kalo beberapa mall itu beda dibanding yang lain. Ada yang beda-beda tipis, tapi ada juga yang mencolok banget. Itu karena mall memang ada kastanya juga. Apa aja sih ciri-ciri yang membedakan mall kelas atas dan mall kelas bawah? Coba perhatikan 8 cara bedainnya berikut ini:

1. Luas Lorongnya

via: tripadvisor.com
Mall kelas atas itu biasanya lorongnya lebar, lapang, gede, langit-langitnya juga tinggi. Pokoknya nyaman deh, bisa buat main futsal atau kasti saking leganya. Sedangkan mall kelas menengah ke bawah itu lorongnya lebih sempit, kecil, udah gitu masih dimakan buat lapak pedagang pula. Kalo lagi rame, kadang kamu sampai harus miring-miring jalannya. Iya kalo kamu kurus, lah kalo gendut kan repot juga senggol sana sini.

2. Pencahayaannya

via: http://jakarta.panduanwisata.id
Mall kelas atas biasanya pakai lebih banyak indirect lighting dan tata cahaya yang oke punya, tidak langsung frontal ke arah mata, sehingga keliatan lebih elegan dalam menyorot kontur serta desain interior maupun eksteriornya. Sedangkan mall kelas bawah lebih konvensional dan biasa aja. Banyak direct lighting, atau malah neon lapak pedagang yang ngejreng banget di depan muka kita. Udah kayak pasar malem aja. Terus kalo rusak, lampunya lama digantinya.  

3. Tokonya

via: jakartajive.com
Mall kelas atas biasanya pasti punya toko-toko eksklusif yang menjual merek ternama. Misalnya untuk gadget ada toko khusus Apple, untuk fashion ada Zara, dan sebagainya. Restorannya juga lebih fancy dan harga menunya cenderung bikin kantong bolong, hihh. Sedangkan mall kelas bawah biasanya menyediakan produk-produk sejuta umat aja, seperti counter hape biasa, kios baju obralan, R*m*y*n*, gitu-gitu deh. Food court-nya juga lebih kayak kantin sekolah, dengan sahut-sahutan suara, "Boleh kakaaakk!" 

4. Eskalatornya

via: okezone.com
 Eskalator alias tangga jalan di mall-mall kelas atas cenderung straight to the point. Yaitu tangga yang arahnya sama, jaraknya ngga jauh dari satu tangga ke tangga berikutnya. Misalnya naik, ya naik terus. Atau turun, ya turun terus. Antara eskalator naik dan turun juga ngga jauh. Seringkali bersebelahan. Tapi di mall kelas bawah, kadang kamu rasanya kayak dikerjain karena jarak antar eskalatornya jauh. Dibikin supaya kamu harus muter-muter dulu sebelum bisa sampai ke tangga berikutnya.  Positif thinking aja, mungkin mereka pengen bikin kamu sehat.

5. Bioskopnya

via: thalitamaia.com
Harga tiket bioskop juga mencerminkan kelas mall. Mall kelas bawah dan menengah biasanya menjual tiket dengan harga lebih terjangkau. Misalnya Rp 25 ribu aja untuk hari biasa, dan Rp 35 - 50 ribu untuk weekend. Tapi mall kelas atas itu bisa sampai di atas Rp 100 ribu harga tiket bioskopnya. Bahkan ada bioskop khusus yang duduknya bukan di bangku, tapi di sofa atau malah kasur! Mau nonton apa mau ngapain tuh? Hayoo. Harganya ngga usah disebut deh. Sayang juga ya, padahal filmnya sama aja.

6. Toiletnya

via: pinterest.com
Mall kelas bawah biasanya punya toilet yang sederhana, terkadang cenderung ke arah jorok. Meski ngga semuanya, ada juga kok yang bersih. Terus ada juga yang dimintain duit Rp 2.000 di depannya (ini mall apa terminal sih?). Sedangkan mall kelas atas biasanya toiletnya lebih lux, wangi, canggih, urinoir dan kerannya pakai sensor, dan hygienis. Bikin betah ngaca lama-lama.

7. Acaranya

via: tempo.co
Setiap mall pasti suka ngadain event tertentu. Mall-mall kelas atas itu biasanya event-nya lebih fancy, semacam fashion show yang melibatkan selebriti dan desainer papan atas, pameran instalasi seni kontemporer, dan hal-hal yang kadang kamu juga ngga ngerti. Sedangkan event di mall kelas bawah itu cenderung lebih merakyat, misalnya lomba mewarnai untuk anak TK se-kecamatan, parade marawis, atau fashion show ala-ala untuk bocah yang host-nya banci rombeng. 

8. Pengunjungnya

via: shoegarmama.blogspot.com
 Yang pasti, mall kelas atas itu pengunjungnya cenderung lebih modis, kece, klimis, dan maksimal (kadang over juga). Tampilannya juga lebih unik dan berani beda, misalnya dress yang limited edition dan potongan rambut gaya terbaru. Sedangkan mall kelas bawah pengunjungnya lebih sederhana, bajunya lebih seadanya, cenderung dekil dan asal-asalan, hehe. Ngga jauh deh dandanannya sama kayak kalo pergi ke warung Bu Mumun di seberang rumah buat beli sabun colek. 
Ngga bermaksud menyinggung SARA ya. Tapi biasanya mall kelas atas itu juga lebih banyak pengunjung Tionghoanya. Mungkin bisa sampai 30 - 50 % dari total pengunjung. Sedangkan di mall kelas bawah, Tionghoanya mungkin cuma 5 - 10 % aja. Itu pun cuma si enci dan kokoh yang punya kios di sana.

Gimana, setuju ga? 

You Might Also Like

0 komentar